Monday, August 31, 2015

Senior, Junior dan Dunia Kemahasiswaan


Kata senior dan Junior tentunya sudah gak asing lagi ditelinga kita ya Sigmainers, sebagian besar dari kita tentunya sedikit banyak sudah merasakan posisi junior dan senior. Dilapangan sendiri fenomena senior junior tak hanya terjadi di bangku sekolah, atau pun kuliah namun juga di dunia kerja.
Nah, kata Senior sendri menurut kamus besar Bahasa Indonesia memiliki arti keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, usia, prioritas status atau tingkatan yg diperoleh dari umur atau lamanya bekerja. Sedangkan pengertian junior adalah berpangkat atau berkedudukan lebih rendah; lebih muda keanggotaannya: (mahasiswa, pegawai, pemain).
dalam lingkungan kita Sigmainers yang mayoritas mahasiswa dan Pelajar fenomena senior junior tentunya juga tak lepas dari kehidupan kita. Nah Didalam dunia kemahasiswaan tentunya kamu pernah dong mendengar kalimat yang sangat popular yakni “Senior selalu benar dan Junior selalu salah”. Kalimat ini sedikit banyak memberi pengaruh pada proses OSPEK yang selama ini terjadi di Indonesia Sigmainers


Benarkah ? Ya tentu saja. Hal ini membangun citra bahwa senioritas identik dengan tindakan kekerasan dan tindakan semena-mena senior yang kerap kali dihubungkan dengan “like and dislike” terutama untuk beberapa kampus dan jurusan tertentu yang dianggap garis “keras”.
Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan senior untuk mengajarkan junior atau memperkenalkan kepada junior lingkungan kampus dan kegiatan belajar mengajar dikampus. Salah satu yang paling populer adalah ospek. Ospek ini sebenarnya sudah ada sejak Zaman Kolonial dulu, tepatnya di STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Kemudian terus berlanjut pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942). Namun pada perkembangannya ospek telah berubah menjadi suatu agenda senioritas dimana senior bertindak lebih dominan terhadap junior.
Bukan seharusnya sosok senior ditakuti selayaknya algojo yang mana kala datang membuat semua mata tertunduk takut. juga tidak tepat jika Junior sang anak bawang di posisikan sebagai bahakn olok=olokan akan ketidaktahuan dan kenaifannya di dunia baru.
Kasus diluar sana terkait OSPEK yang berjalan diluar batas normal tentunya menjadi momok sekaligus catatan hitam dari sebuah proses pendewasaan dilingkungan pendidikan. Terlepas dari itu semua, sebagai insan pendidikan sudah seharusnya dan sepantasnya kita memberikan yang terbaik dengan mengubah semua persepsi yang sudah melekat di masyarakat.
oleh karena itu bilamana dalam posisi junior hendaknya berperilaku sebagaimana orang baru yang haus akan ilmu bukan Cuma sekedar sensasi, ingatlah selalu bahwa ada beban penting dari orang tua yang telah kita pikul. Jangan melakukan hal-hal yang mengundang senior untuk melakukan sesusatu hal yang tidak menyenangkan karena pepatah mengatakan bahwa “Tidak akan ada bau busuk jika tidak ada bangkai” maka tidakkan ada akibat yang tidak mempunyai sebab. Dan saat menjadi Senior jadilah senior dengan penuh wibawa serta mengayomi, bukan menjadi sosok yang ditakuti. Intropeksi diri dan mulailah menginterpretasikan diri menjadi sosok yang siap sebagai seorang mahasiswa untuk dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik.

By : MiRMiR