Wednesday, January 30, 2013

Indahnya Menjadi Pendidik


Indahnya Menjadi Pendidik
Oleh: Yudha Dwi Laksono ( Mahasiswa STT-PLN )






Menjadi seorang pendidik memang bukanlah hal yang sulit , tapi juga bukan pula merupakan hal yang mudah. Keinginan menjadi seorang pendidik harus bermuara dari hati. Ketulusan dan keikhlasan menjadi seorang pendidik adalah suatu keharusan. Hal ini mengingatkanku pada salah seorang penulis buku yang aku temui dalam suatu konferensi pemuda di Jakarta beberapa bulan yang lalu. Dia adalah Mbak Adenita yang sempat berucap “Melangkah dengan Hati”
. Aku bertemu dengan mbak Adenita ketika ikut suatu konferensi pemuda . Tepatnya Konferensi Pendidik Muda (NFEC 2012) di Sampoerna School of Education (SSE) . Disana saya bertemu dengan banyak sekali pemuda-pemudi yang sangat tertarik untuk terjun dan berkecimpung didunia pendidikan. Mereka terlihat antusias mengikuti semua agenda kegiatan yang akan dilakukan selama dua hari. Semangat dan kegembiraan itu terpancar dari raut wajah dan senyum mereka. Senang sekali bisa berkumpul dengan mereka semua. Tak tangung-tanggung, ada dari mereka yang berasal dari kota-kota didaerah sumatra dan beberapa lagi dari pulau lain. Tiap agenda yang berlangsung membuat kita merasa yakin akan keputusan kita untuk berada dikonferensi ini. Disana ,kami bertemu dengan tokoh –tokoh yang inspiratif seperti Pak Satria Dharma. Banyak sekali hal yang diutarakan oleh beliau selama mengisi materi  dikonferensi ini. Hari demi hari kami lewati dengan antusias. Pak Satria menyakinkan kami bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah hal yang salah. Menjadi seorang pendidik bukan berati kita berani mengambil keputusan utuk menjadi miskin. Sangat salah jika kita berfikiran bahwa dengan menjadi pendidik, kita akan serba kekurangan. Coba liat  saja dibeberapa negara lain, menjadi seorang pendidik meupakan suatu kehormatan yang luar biasa bagi mereka dan lingkungan sekitarnya. Begitu pula di Indonesia , sekarang ini pemerintah sedang memperbaiki kualitas pendidik (guru ) dengan program uji kompetensi guru. Dengan cara ini posisi guru akan menjadi lebih penting untuk kemajuan suatu bangsa. Bagaimana tidak, Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh seperti apa generasi mudanya. Dan generasi muda ditentukan seberapa besar peran pendidik untuk membuat mereka semua bermanfaat bagi bangsa dan negara. Jadi sangatlah vital peran seorang pendidik dalam kasus ini. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjadi seorang pendidik.  Dengan menjadi pendidik kita akan lebih peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh generasi muda suatu bangsa. Dengan pemahaman ini kita akan merasakan kepuasan tersendiri ketika kita mampu memecahkan permasalahan itu. Menjadi pendidik juga akan membuat diri kita lebih bijak dan berfikir cerdas dalam setiap lini kehidupan. Ada satu lagi hal yang bisa aku ambil ketika bergabung dengan konferensi pemuda ini. Aku sadar akan satu hal bahwasanya untuk bahagia kita tidak harus menetapkan standar bahagia yang terlalu tinggi seperti memiliki uang yang banyak,beristri cantik dll.  Cukup dengan berkata “ Aku bahagia hari ini “sebelum beraktivitas akan  membuat sepanjang hari kita lebih penuh warna. Sehingga apa yang akan kita lakukan akan menjadi kebahagian murni untuk batin dan jasmani kita. Lagi-lagi akau diingatkan dengan untaian kata nun indah “ Melangkah dengan Hati” oleh mbak Adenita. Kalimat ini penuh sekali dengan makna. Melalui kalimat ini kita dingatkan bahwa untuk menjadi apapun dan siapapun, kita harus mengayunkan kaki kita dengan penuh suka cita dan ketulusan hati. Apapun dan siapapun kita jika kita melangkah dengan hati, segala sesuatunya akan menjadi mudah. Yakinlah bahwa hati merupakan fikiran baik yang akan mengawal kita untuk mendapatkan kado besar yang telah Tuhan bingkiskan buat kita. Indahnya menjadi seorang pendidik akan kita dapatkan jika kita secara tulus dan ikhlas untuk mendidik. Jadi, tidak ada satu alasan apapun bagi kita untuk tidak menjadi pendidik. Namun kita harus berfikir bahwa untuk mendidik tidak harus menjadi seorang guru. Melainkan banyak sekali cara bagi kita untuk mendidik bangsa ini. Seorang pengusaha pun bisa memberikan nilai kebermanfaatan bagi semua orang yang ingin memposisikan diri sebagai pengusaha. Bahkan pemungut sampah juga dapat mendidik kita untuk tetap bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan buat kita. Kita sebagai manusia memiliki kewajiban untuk membuat orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Jika kita merasa nyaman maka kita berkewajiban untuk mebuat orang lain juga merasa nyaman. Dengan cara ini, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan dan kita akan tetap selalu bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Mari kita menjadi pendidik untuk MENDIDIK bangsa ini. Mari kita menjadi pembelajar untuk selalu BELAJAR akan kehidupan ini. Salam Pemuda Membangun Bangsa